Berita

Adab Niat - Kitab Minhajul Muslim



Setiap muslim tentu percaya akan pentingnya kedudukan dan urgensi niat bagi seluruh amal perbuatannya, baik yang berifat keduniaan maupun keagamaan. Sebab seluruh amal perbuatan kepada niat. Kuat dan lemahnya suatu amalan sangat dipengaruhi oleh niat. Sah dan tidaknya suatu amalan juga tergantung kepada niat. Kepercayaan setiap muslim mengenai betapa pentingya niat ini bagi seluruh amal perbuatannya serta kewajiban untuk selalu meluruskanya, didasarkan pada: 

Pertama, firman Allah   

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

5. Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah   dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar). (Al-Bayyinah: 5) 

قُلْ اِنِّيْٓ اُمِرْتُ اَنْ اَعْبُدَ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ

11. Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan agar menyembah Allah   dengan penuh ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (Azzumar: 11) 

Kedua, didasarkan pada sabda rasulullah  :

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى

“Sesungguhnya amal seseorang itu tergantung dengan niatnya, dan bagi setiap orang balasannya sesuai dengan apa yang di niatkannya.” (Muttafaq ‘Alaih)

 

 إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah   tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah   hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” [HR. Muslim no. 2564]

Yang dimaksud dengan melihat kepada hati adalah melihat kepada niatnya. Sebab niat itulah yang membangkitkan dan mendorong amal perbuatan serta mempertahankan pelaksananya. Nabi  bersabda:

من هم بحسنة فلم يعملها كتبت له حسنة

“Barangsiapa berhasrat ingin melakukan suatu kebaikan kemudian ia tidak melakukannya, maka dituliskan baginya satu kebaikan. (HR. Muslim)

Sekedar Hasrat untuk berbuat baik saja sudah dianggap sebagai amal kebaikan yang ditetapkan mengandung pahala. Itu tidak lain karena keutamaan niat yang baik.

Nabi  juga sbersabda:

الناس أربعة : رجل آتاه الله عز وجل علما ومالا فهو يعمل بعلمه في ماله فيقول رجل لو آتاني الله تعالى مثل ما آتاه الله لعملت كما عمل, فهما في الأجر سواء, ورجل آتاه الله مالا ولم يؤته علما فهو يخبط في ماله فيقول رجل لو آتاني الله مثل ما آتاه عملت كما يعمل فهما في الوزر سواء

Manusia itu terbagi menjadi empat macam. Orang yang diberi ilmu dan harta oleh Allah   lalu ia mengamalkan ilmunya berkenaan dengan hartanya. Lalu ada orang yang berkata, “andaikan aku diberi oleh Allah    dengan sesuatu seperti yang telah diberikan oleh-Nya kepada orang itu, tentu aku akan melakukan seperti yang dia lakukan.” Kedua orang tersebut mendapatkan pahala yang sama. Ada lagi orang yang diberi harta oleh Allah   namun dia tidak diberi ilmu, dan dia menggunakan hartanya itu pada jalur yang tidak benar. Lantas ada orang lain yang mengatakan, “Seandainya aku diberi oleh Allah   seperti apa yang diberika kepada orang itu, maka aku tentu melakukan perbuatan yang serupa dengan apa yang dilakukanya.’ Keduanya mendapat dosa yang sama.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad Jayyid) 

Orang yang hanya bermodalkan niat yang baik diberi pahala seperti pahalanya orang yang sudah benar-benar mengerjakan amal sholih. Sebaliknya orang yang mempunyai niat yang rusak juga diganjar dengan dosa sebagaimana dosanya orang yang telah benar-benar melakukan perbuatan yang rusak (maksiat). Semuanya ini semata-mata bersumber dari niat belaka.

Nabi  ketika sedang berada di Tabuk bersabda: 

إن بالمدينة أقواما ما قطعنا واديا ولا وطعنا موطئا يغيظ الكفار ولا أنفقنا نفقة ولا أصابتنا مخمصة إلا شركونا في ذلك وهم بالمدينة . قالوا : كيف ذلك يا رسول الله ؟ قال : حبسهم العذر فشركو بحسن النية 

“sesunggunya di kota Madinah ( yang sekarang baru kita tinggalkan) terdapat orang-orang yang kita tidak menyusuri satu lembah pun, tidak pula ita injak bagian bumi, untuk membangkitkan kemurkaan orang-orang kafir, tidak pula kita berinfak dengan sesuatu , ataupun penderitaan kita karena kelaparan, melainkan mereka itu, selalu menyertai kit akita dalam memperoleh pahalanya, sekalipun mereka sebenarnya berada di Madinah.”ditanyakan kepada beliau, “Bagaimana bisa begitu ya RasulAllah   ?” beliau menjawab, “mereka terhalang oleh sesuatu dan lain hal.”(diriwayatkan oleh Bukhori secara ringkas) mereka yang tertinggal selalu menyertai beliau dan semnua orang yang berangkat disebabkan niat baik mereka!

Dengan demikian,  niat yang baik itulah yang menjadikan orang yang tidak ikut dalam perang dan jihad bisa mendapatkan pahala seperti orang yang benar-benar turut serta. 

Nabi  juga bersabda 

إذا التَقَى المسلمانِ بسَيْفَيْهِمَا فالقاتلُ والمقْتُولُ في النَّارِ». قلت: يا رسول الله، هذا القاتلُ فما بالُ المقتولِ؟ قال: «إنه كان حريصًا على قَتْلِ صَاحِبِهِ

"Apabila ada dua muslim yang bertikai dengan pedangnya, maka orang yang membunuh dan orang yang terbunuh sama-sama berada dalam neraka." Aku bertanya, "Wahai Rasulullah! Pembunuh ini wajar masuk neraka, lantas bagaimana gerangan yang terbunuh?" Beliau menjawab, "Karena ia juga sangat berambisi untuk membunuh sahabatnya." (Muttafaq Alaih) 

أَيُّمَا رَجُلٍ أَصْدَقَ امْرَأَةً صَدَاقًا وَاللَّهُ يَعْلَمُ مِنْهُ أَنَّهُ لَا يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلَيْهَا فَغَرَّهَا بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاسْتَحَلَّ فَرْجَهَا بِالْبَاطِلِ لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ يَلْقَاهُ وَهُوَ زَانٍ ، وَأَيُّمَا رَجُلٍ ادَّانَ مِنْ رَجُلٍ دَيْنًا وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلَيْهِ ، فَغَرَّهُ بِاللَّهِ وَاسْتَحَلَّ مَالَهُ بِالْبَاطِلِ ، لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ يَلْقَاهُ وَهُوَ سَارِقٌ

 Siapa yang ingin memberi mahar kepada seorang wanita namun Allah   mengetahui sebenarnya dia tidak bermaksud menyerahkanya kepada wanita tersebut, sehingga dia menipu itu atas nama Allah   dan menghalalkan kemaluanya maka dia akan bertemu Allah   sedangkan kedudukanya dianggap sebgai pezina. Dan siapa saja yang berhutang namun Allah   mengetahui dia tidak punya niat untuk menbayarnya, tetapi dia hanya bermaksud menipu atas nama Allah  , maka di aitu akan bertemu Allah   dengan kedudukan sebagai pencuri (HR. Ahmad dan Ibnu Majah) namun dalam Riwayat ini hanya terbatas pada utang, buka termasuk mahar.

Ini semua menegaskan apa yang harus diyakini oleh setiap muslim mengenai pentingnya niat, agungnya kedudukan niat, serta besarnya urgensi niat. Oleh karena itu setiap muslim sudah semestinya membangun seluruh amal perbuatanya diatas pondasi niat yang baik. Begitu pula dia juga harus mencurahkan segala upayanya jangan sampai melakukan suatu amalan tanpa niat, atau dengan niat yang tidak baik. Sebab niat merupakan ruhnya amal dan pilarnya. Sahnya suatu amal ditentukan oleh sahnya niat, dan rusaknya amal juga ditentukan oleh rusaknya niat. Amal perbuatan tanpa didasari didasari dengan niat oleh pelakunya akan menjadi keraguan tercela.

Setiap muslim juga seharusnya meyakini bahwasanya niat merupakan rukun () dan syarat setia amal perbuatan. Dia tentu memandang bahwa yang Namanya niat itu bukan sekedar ucapan lisan nawaitu..(aku berniat), dan juga bukan sekedar greget di dalam hati. Namun yang Namanya niat itu sebenarnya merupan dorongan dari dalam hati untuk melakukan suatu amal perbuatan dan suatu tujuan yang benar, seperti mendatangkan kemanfaatan dan menolak kemudharatan, baik untuk masa sekarang maupun yang akan datang. Disamping itu, niat merupakan kehendak yang ditujukan untuk melakukan suatu perbuatan semata-mata untuk mencari ridho Allah   atau untuk menunaikan perinthannya.

Setiap muslim tentunya meyakini bahwa amal perbuatan yang mubah akan berubah menjadi suatu bentuk ketaatan bila didasari dengan niat yang baik, dan hal itu akan mendatangkan pahala. Sedangkan bentuk ketaatan sekalipun, jika tidak disertai dengan niat yang baik bisa berubah menjadi kemaksiatan yang mengandung dosa dan ada sangsinya. 

Namun demikian, dia harus menyadari bahwa kemaksiatan selamanya tidak akan berubah menjadi suatu ketaaatan karena niat baik. Maka orang yang menggunjing seseorang dengan maksud memperbaiki kepribadian yang di gunjing itu tetap dianggap melakukan dosa dan kemaksiatan, niatnya yang baik itu sama sekali tidak berguna. Orang nyang membangun masjid dengan harta yang haram tidak akan memperoleh pahala. Orang yang menghadiri pesta yang dipenuhi dengan tarian dan lawakan, atau membeli kupon undian dengan niat untuk mendukung proyek-proyek sosial, atau untuk kepentingan jihad dan semisalnya, maka orang-orang tersebut tetap dipandang bermaksiat kepada Allah   dan dia berdosa. Dia sama sekali tidak mendapatkan pahala. Orang yang membangun kubah diatas kuburan orang-orang sholih atau memyembelihkan binatang untuk mereka, atau bernadzar untuk mereka dengan niat mencintai orang-orang sholih juga merupakan dosa dan kemaksiatan kepada Allah  . Sekalipun dilakukan dengan niat baik. Sebab niat yang baik itu tidak akan berubah menjadi suatu ketaatan kecuali dalam perkara mubah yang dibolehkan untuk dikerjakan. Adapun suatu yang asalnya haram itu tidak akan pernah berubah menjadi ketaatan dalam keadaan apapun. 

Sumber kitab minhajul muslim-admin

Kirim Pesan
?>

PSB IFIBS TAHUN 2022/2023